.
Monday 06th of September 2010    

Mahasiswa dan Reformasi Pendidikan Indonesia PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 30 April 2009 08:56
Oleh Wayan Sohib*

Semangat pendidikan Indonesia disinggung dalam muqadimah UUD 1945, “… melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.”

Kemudian dalam Pasal 3 UU No 20 tahun 2003 terdapat rumusan tujuan pendidikan nasional secara eksplisit, bahwa sudah selayaknya seluruh masyarakat mendapatkan hak pendidikan guna memperbaiki taraf kehidupannya. Muatan pendidikan secara konstitusi sudah jelas mengarah pada perubahan dan perbaikan, namun dalam segi metode dan penerapannya belum begitu relevan dengan perkembangan zaman. Maka membutuhkan serapan baru dari seluruh elemen pendidikan khususnya mahasiswa sebagai aktor pendidikan untuk mewujudkan hasil pendidikan yang diharapkan bersama sesuai landasan di atas.

Definisi dan hakikat dasar pendidikan

Istilah pendidikan dalam bahasa arab diartikan sebagai tarbiyah yang memiliki pengertian yaitu menjaga, memelihara, mengembangkan bakat dan potensi sesuai dengan karakteristik anak didik serta mengarahkan seluruh potensinya sampai mencapai kebaikan dan kesempurnaan atau keutuhannya sebagai manusia. Dari situ kita bisa mengamati ada pointer penting yang menjadi isi dari makna pendidikan yaitu harapan adanya reformasi yang terjadi dari setiap diri anak didik dan sosialnya. Jadi, merubah dan perubahan merupakan hakikat pendidikan, dimana merubah merupakan prosesnya dan perubahan adalah hasilnya. Perubahan individu sebagai awalan proses dan hasil pendidikan, dan perubahan sosial merupakan konsekuensi dari perubahan individu tersebut.

Para pakar mengidentikkan pendidikan dengan kemajuan dan perbaikan, oleh karena itu mereka memandang sebuah aktivitas kependidikan yang tidak membawa kemajuan dan perbaikan malah mungkin bertolak belakang, tidak dapat dikatakan pendidikan.

Taksonomi gerakan mahasiswa dan kepeduliannya

Mahasiswa menjadi tumpuan berbagai pihak yang merupakan harapan keluarga, masyarakat, bangsa, negara, bahkan harapan dunia. Namun seiring dengan identitas pemuda dan khususnya mahasiswa, ada peran kontributif yang harus dilakukan sebagai kensekuensi logis dan otomatis dari identitas tersebut yang menuntut untuk melakukan sesuatu yang seharusnya dikerjakan.

Ruang gerakan mahasiswa yang pertama adalah academic existence, dimana kehidupan akademik merupakan ruang prioritas yang menjadi tuntutan utama dan tugas inti seorang mahasiswa, karena konsekuensi identitas mahasiswa dalam aspek yang lain merupakan derivat dari proses pembelajarannya. Mahasiswa sebagai bagian dari civitas akademika harus menjadi insan yang memiliki keunggulan intelektual, karena itu merupakan modal dasar kredibilitas intelektual. Academic existence merupakan kontribusi nyata dan sekali lagi yang utama dalam pendidikan, hasil optimalisasinya menjadi modal awal dalam memberikan yang lebih untuk negerinya. Sebab kontribusi tanpa ilmu merupakan pemberian sementara dan minim kegunaan. Jadi semuanya harus berawal dari ilmu, dan ini sesuai dengan konsep Islam pada ayat pertama yang diturunkan Allah kepada Muhammad SAW yaitu iqro (bacalah), ini adalah tawaran awal Islam dalam kehidupan bahwa semuanya harus diawali dengan pemahaman yang jelas dan benar.

Ranah gerak yang kedua adalah organisation existence, karena tidak semua hal bisa dipelajari di kelas dan laboratorium. Masih banyak hal yang bisa dipelajari di luar kelas, terutama yang hanya bisa dipelajari dalam organisasi. Organisasi kemahasiswaan menyediakan kesempatan pengembangan diri luar biasa dalam berbagai aspek, seperti kepemimpinan, manajemen organisasi, membangun human relation, team building, entrepreneurship, dan sebagainya. Organisasi juga sekaligus menjadi laboratorium gratis ajang aplikasi ilmu yang didapat di bangku kuliahnya. Karena tidak sedikit yang lulus perkuliahan tidak mampu mengaplikasikan keilmuannya yang disebabkan tidak ada pengalaman dan skill dalam berorganisasi, karena setiap pekerjaan semuanya berorganisasi, bahkan menjadi karyawan atau buruh sekalipun tetap dinamakan berorganisasi.

Dalam berorganisasi, mahasiswa bisa melakukan banyak hal dalam berkontribusi pada masyarakat disegala bidang, termasuk di bidang pendidikan. Dalam taksonomi konsep untuk pendidikan, efektifitas dalam membangun networking organisation bisa dengan membuat program kerja untuk meringankan kesulitan ekonomi masyarakat dalam mempertahankan keberlangsungan pendidikannya. Misalnya program beasiswa anak asuh bagi anak didik yang kesulitan dalam membiayai sekolahnya, juga bisa melakukan baksos dalam memperbaiki sarana sekolah atau sasaran baksos lainnya.
Selain itu bisa dengan mengadakan penyuluhan, seminar motivasi pendidikan, sampai pendidikan anti korupsi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, bahkan pendidikan gratis pun bisa diwujudkan melalui komitmen, networking, dan profesionalisme program kerjanya dalam organisasi, dan banyak lagi program kerja lain yang bisa dirancang dalam organisasi. Dan yang terpenting adalah peningkatan kapasitas jiwa kepemimpinannya sebagai iron stock sebuah bangsa, untuk menjadi pengambil kebijakan dalam mengelola pendidikan.

Ruang gerak yang ketiga yaitu social-politic existence, karena mahasiswa merupakan bagian dari rakyat, bahkan ia merupakan rakyat itu sendiri. Mahasiswa tidak boleh menjadi entitas terasing di tengah masyarakatnya sendiri. Ia dituntut untuk melihat, mengetahui, menyadari, dan merasakan kondisi riil masyarakatnya yang sekarang sedang dirundung krisis multidimensional. Mahasiswa merupakan simbol intelektualitas yang memiliki tanggungjawab moral dan secara intelektual untuk mengabdi pada masyarakat sesuai kompetensi intelektualnya.

Kesadaran ini mesti teremosionalisasikan sedemikian rupa sehingga tidak berhenti dalam tataran kognitif, tapi harus mewujud dalam bentuk aksi advokasi. Walau pun sering bersinggungan dengan ketidakadilan dan otoriteranisme kekuasaan. Tapi penyampaian aspirasi pendidikan pro rakyat dengan pressur group yang mengedepankan aspek moral dan politik nilai, masih sangat efektif dilakukan mahasiswa. Dengan skill diplomasinya mampu menyampaikan harapan masyarakat tentang pendidikannya secara langsung dalam memperbaiki kebijakan pemerintah. Bahkan ide dan gagasan mahasiswa masih menjadi dan akan tetap menjadi suatu harapan segar untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Karena program pendidikan gratis pun sangat bisa terlaksana kalaulah anggaran untuk pendidikan sebesar 20 persen terealisasi, dan lemahnya komitmen pemerintah itu bisa dibantu mahasiswa dengan mengingatkan dan “membangunkan” para pengelola negeri ini.

*Penulis, Ketua Umum KAMMI Komisariat Universitas Pasundan 2008-2009, Bandung
Last Updated on Thursday, 30 April 2009 09:04
 
bottom

Powered by Joomla!. Designed by: Free Joomla Theme, what is reverse dns. Valid XHTML and CSS.