.
Monday 06th of September 2010    

Kisah Seorang Jendral Di Masa Orde Baru PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Friday, 12 June 2009 10:12
Oleh Akbar Sayudi

Judul        : A.H. Nasution di Masa Orde Baru

Penulis      : Drs. Bakri A.G. Tianlean

Penerbit     : Mizan

Tahun        : Oktober 1997

Tebal        : 261 halaman

“Jendral Banyak Bekas”(hal 53).

Kutipan di atas merupakan salah satu judul prakata yang ada dalam buku ini. Judul tersebut disambung dengan kiprah Jendral Purnawirawan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Abdul Haris Nasution merupakan tokoh yang diceritakan dalam buku ini.

Diasuh dalam lingkungan keluarga yang taat kepada agama islam, serta pendidikan Belanda yang didapatnya pada masa sebelum perang, merupakan tumpukan latar belakang yang telah membentuk sikap hidup serta posisi Nasution sebagai perwira.

Nasution adalah salah satu-kalau tidak boleh dikatakan satu-satunya-tokoh militer yang paling lama berada dipuncak pimpinan TNI, sepanjang masa kekuasaan Soekarno. Karena itu, sejak lahir, tumbuh, dan perkembangan kehidupan TNI sukar dipisahkan dari karier dan sepak terjang Nasution sendiri di dalamnya. Dalam kata-kata Jendral Achmad Yani ketika menerima jabatan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dari Jendral Nasution pada Juni 1962, “Jendral Nasution bukan saja telah merintis jalan terang bagi kelanjutan TNI, tetapi ia telah meletakkan dan menyempurnakan fondasi yang kokoh bagi TNI” (Hal 55).

Namun, ketika tumbangnya orde lama yang kemuduian diganti dengan orde baru ternyata menjadi badai yang sangat besar bagi Jendral Nasution. Karena pada masa pemerintahan orde baru banyak fitnah yang menerpa Jendral Nasution. Salah satunya yaitu, peristiwa 17 Oktober 1952 diisukan sebagai usaha Nasution untuk melakukan kudeta terhadap presiden Soekarno. Demikian juga tentang Jendral Nasution yang didesak saat akan diberikan kekuasaan untuk menggantikan  presiden Soekarno tetapi ditolaknya sehingga Jendral Soehartolah yang mengambil kekuasaan itu. Hal tersebut telah dijadikan senjata untuk melemahkan posisi Nasution dimata masyarakat. Dengan keterangan-keterangan itu pula Nasution diberi “merek” sebagai orang yang ragu-ragu untuk bertindak pada saat yang menentukan (hal 73).

Selain itu, tragedi Bandung Lautan Api yang merupakan peristiwa zaman revolusi fisik dianggap sebagai suatu tindakan yang tidak mencerminkan sikap perjuangan. A.H. Nasution yang memiliki wewenang teratas pada saat itu dianggap sebagai Jendral yang tidak memiliki sifat perjuangan dengan memerintah rakyat untuk menyerahkan kota Bandung pada Inggris dengan cara meninggalkan kota tanpa menyerahkan senjata serta membakar setiap bangunan yang ada. Padahal kalau ditelusuri lebih dalam lagi, hal itu dilakukan oleh Nasution atas saran Perdana Menteri Sutan Sjahrir yang beranggapan bahwa musuh Indonesia sebenarnya bukanlah Inggris, melainkan Belanda. Maka dari itu Sjahrir menyarankan untuk mundur dengan syarat tidak menyerahkan persenjataan Indonesia yang kemudian disusul dengan pembentukan kekuatan untuk merebut kembali kota Bandung dan menghadapi Belanda.

Semasa pemerintahan orde baru, Jendral Nasution selalu mengingatkan akan tekad orde baru, yaitu sikap mental yang dijiwai oleh pancasila agar tidak terjadi penyimpangan. Tetapi hal itu kurang mendapat perhatian karena akhirnya orde baru menjauh dari tujuan serta tekadnya. Hal itu dapat dirasakan saat berjalannya kekuasaan orde baru dimana banyak terjadi tekanan, intimidasi, bahkan fitnah-fitnah sebagai usaha untuk menjatuhkan serta merebut sebuah kekuasaan.

Fitnah-fitnah yang dialami Jendral Nasution tidak pernah berhenti. Karena setiap ada peristiwa yang berdampak nasional, mata aparat keamanan jarang berpaling dari dugaan terhadap Jendral Nasution. Pada tahun 1972-1974, Nasution sering mengunjungi berbagai kampus untuk memberikan ceramah. Namun tidak jarang ceramah tersebut berbuntut pemanggilan yang dilanjutkan dengan pemeriksaan terhadapnya.

Menanggapi fitnah-fitnah tersebut, Jendral Nasution selalu bersikap tenang dan berusaha meluruskan fakta dengan membuat pertemuan-pertemuan. Selain itu, rekan kerja serta para pengikutnya pun ikut andil dalam meluruskan setiap fakta yang diputar balikkan itu.

Sebuah buku yang bagus dibaca untuk mengetahui tentang sejarah yang sebenarnya. Dan dapat menambah wawasan kita tentang pergantian kekuasaan dari orde lama ke orde baru serta kejadian yang terjadi saat itu. Namun, ada beberapa peristiwa yang kurang ada penjelasan sehingga menyulitkan pembaca untuk memahaminya.

Terlepas dari itu semua, buku ini sangat cocok sebagai pegangan untuk mempelajari salah satu bagian dari sejarah bangsa ini.
Last Updated on Friday, 12 June 2009 10:18
 
bottom

Powered by Joomla!. Designed by: Free Joomla Theme, what is reverse dns. Valid XHTML and CSS.